Ini adalah salah satu buku yang layak untuk dibaca(atau diunduh alias download) bagi mereka yang ingin tahu apa sajakah sumber energi alternatif untuk menggantikan peran minyak di masa depan. Seperti yang kita tahu, belakangan ini makin besar kekhawatiran mengenai ketersediaan energi di masa depan karena minyak merupakan sumber daya alam yang tak terbarukan. Kesimpangsiuran mengenai kapan "peak oil" akan terjadi juga menjadikan masyarakat dunia sempat khawatir akan ketersediaan minyak. Bahkan, tahun kemarin, harga minyak sempat mencapai rekor tertingginya dalam sejarah manusia. Sebenarnya, sumber energi apa saja kah yang dapat kita gunakan sepeninggal minyak dan gas.
Selain masalah ketersediaan, masalah lain mengenai penggunaan minyak adalah pada masalah polusi yang ditimbulkannya. Masalah ini berkaitan dengan minyak dan bahan bakar fosil dalam penggunaannya merupakan salah satu penyebab terjadinya global Warming. Ditambah lagi, penggunaan minyak terbesar adalah untuk pembangkit listrik, diikuti oleh transportasi. Oleh karena itu, di tahun 2005, St John College, London mengadakan Workshop sehari dengan tema "Energy...beyond oil". Hasilnya adalah kumpulan dari makalah2 pembicara dijadikan buku ini.
Buku ini membahas mengenai masalah2 energi seperti yang diberikan sekelumit diatas, juga membahas mengenai alternatif2 energi seperti : Geothermal, Ombak dan gelombang laut, angin, nuklir, energi fusi, matahari, biosolar, hidrogen. Selain itu, dibahas pula mengenai efisiensi energi dalam desain bangunan dan menjalankan transformasi ke energi ekonomi baru. Pada masing2 bahasan mengenai sumber energi alternatif, diberikan mengenai gambaran umum penggunaan dan cara memperoleh energi tersebut. Ditambah pula tentang kelebihan dan kekurangan dari pengunaan masing2 energi tersebut.
Yang perlu penulis garisbawahi adalah dari beberapa sumber alternatif energi tersebut, energi panas bumi(geothermal) adalah yang paling potensial dilaksanakan di Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki banyak gunung berapi yang masih aktif dan energinya dapat digunakan sebagai pembangkit listrik untuk jangka waktu yang sangat lama. Begitu pula dengan biosolar dan tenaga surya. Keduanya sangat potensial untuk digunakan di indonesia, namun masih terkendala dengan teknologi. TErlebih, eksploitasi biosolar dipandang dapat mengganggu ketersediaan pangan dan memangkas hutan hujan tropis. Walaupun Indonesia merupakan negara maritim, namun penggunaan energi ombak masih terkendala dengan teknologi dan investasi yang masih sangat tinggi.
Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kita belum punya kandidat kuat untuk pengganti bahan bakar fosil yang selama ini kita gunakan. Kelebihan dari bahan bakar fosil khususnya minyak dan gas adalah kemudahan dalam memperoleh dan pengiriman dan penggunaannya. Hal ini sebaiknya tidak membuat kita berputus asa untuk terus mencari dan mendukung tersedianya energi baru untuk generasi berikutnya. Mari kita terus kembangkan teknologi!
Blog ini adalah cuplikan kisah sehari2 yang sempat tertulis. Demikian pula dengan beberapa pemikiran ataupun "ilham" yang menyambangi...
22 Maret 2009
Pesta rakyat!
Pemilu selalu dimottokan sebagai pesta demokrasi, pestanya rakyat. Pesta dimana rakyat diberi kebebasan dalam memilih wakil2nya demi memajukan negeri
indonesia. Memilih wakil2 dari partai politik untuk menyalurkan aspirasi mereka di Lembaga DPR dan DPRD. NAsib Negara Ada Di tangan RAkyat, Itulah yang
didengung2kan dari pesta ini.
NAmun, melihat kampanye2 terbuka yang diselenggarakan partai politik berupa panggung hiburan dan konvoi kendaraan, penulis merasa miris. WAlaupun dengan
maksud untuk menjaring simpati para calon pemilih a.k.a masyarakat, terutama rakyat kecil, hal ini dalam pelaksanaannya membuat penulis merasa demikian. Hal
ini karena dari 2 macam kampanye tersebut, rakyat berjoged ria, menggeber kendaraan bermotornya sebising2nya, mengibarkan bendera partai sekencang2nya
kekanan kiri, beramai2 bergembira bersama juru kampanye. Bagaikan berpesta. Pesta nan meriah pun gratis. Bahkan ada yang mengelu2kan sang ketua umum partai
sampai rela berjejal2an demi mendapat cium tangan beliau, "sang idola". Walaupun ada contoh pula ketika salah satu partai politik menggelar panggung hiburan,
para simpatisannya lebih memilih untuk mendengarkan lagu yang dibawakan sang artis ketimbang janji2 sang juru kampanye...
MEnurut penulis, daripada menggelar kampanye yang demikian, lebih baik berkampanye dengan cara lain yang lebih bermanfaat dan kreatif. Seperti mengunjungi
pasar2 sambil berdandan ala tokoh pewayangan untuk melihat warganya secara langsung. Berbagai macam cara masih banyak. Penulis lebih memberikan saran
mengenai berkampanye tidak hanya pada jatah kampanye yang diberikan menjelang pemilu, namun alangkah baiknya berkampanye dengan memberikan karya nyata selama
5 tahun sebelum pemilu. Dengan sering berkomunikasi dengan rakyat dalam waktu yang demikian longgar, bukan tidak mungkin akan mengurangi perasaan skeptis
pada rakyat yang perlahan2 mulai "cerdas" untuk tidak terlalu percaya janji2 manis para calon legislatif menjelang pemilu. Dan bukan tidak mungkin pula dapat
mengurangi jumlah golput. Partai politikpun tak perlu terlalu intensif dengan cara menggenjot target dalam waktu 3 minggu ini. PAra ketua umumnya pun tidak
perlu berkelana seluruh Indonesia dalam waktu yang demikian singkatnya. TAk perlu pula harus sikat sana sikat sini menjatuhkan lawan dalam berkampanye.
Katanya, Si beliau telah kembali demi rakyat..Emang abis dari mana sih selama ini..:-(
Menanggapinya, penulis pun kemarin melakukan pesta ala rakyat kecil biasa. PEsta, karena perasaan penulis saat melakukannya mirip dengan perasaan ketika
menikmati hidangan pesta nan lezat. Yang penulis lakukan adalah menggoreng telur ceplok kemudian menikmatiny dengan nasi putih hangat yang diramaikan oleh
sambal kecap bawang merah+tomat. Nyamm...Nikmat nian. Hati dan Lidah serasa berpesta. Tak perlu biaya besar. Tak perlu panggung meriah. Tak perlu kaus2 ,
poster, pin, stiker. Perut kenyang, hati senang, lidah pun bergoyang. Benar2 kenikmatan rakyat..
indonesia. Memilih wakil2 dari partai politik untuk menyalurkan aspirasi mereka di Lembaga DPR dan DPRD. NAsib Negara Ada Di tangan RAkyat, Itulah yang
didengung2kan dari pesta ini.
NAmun, melihat kampanye2 terbuka yang diselenggarakan partai politik berupa panggung hiburan dan konvoi kendaraan, penulis merasa miris. WAlaupun dengan
maksud untuk menjaring simpati para calon pemilih a.k.a masyarakat, terutama rakyat kecil, hal ini dalam pelaksanaannya membuat penulis merasa demikian. Hal
ini karena dari 2 macam kampanye tersebut, rakyat berjoged ria, menggeber kendaraan bermotornya sebising2nya, mengibarkan bendera partai sekencang2nya
kekanan kiri, beramai2 bergembira bersama juru kampanye. Bagaikan berpesta. Pesta nan meriah pun gratis. Bahkan ada yang mengelu2kan sang ketua umum partai
sampai rela berjejal2an demi mendapat cium tangan beliau, "sang idola". Walaupun ada contoh pula ketika salah satu partai politik menggelar panggung hiburan,
para simpatisannya lebih memilih untuk mendengarkan lagu yang dibawakan sang artis ketimbang janji2 sang juru kampanye...
MEnurut penulis, daripada menggelar kampanye yang demikian, lebih baik berkampanye dengan cara lain yang lebih bermanfaat dan kreatif. Seperti mengunjungi
pasar2 sambil berdandan ala tokoh pewayangan untuk melihat warganya secara langsung. Berbagai macam cara masih banyak. Penulis lebih memberikan saran
mengenai berkampanye tidak hanya pada jatah kampanye yang diberikan menjelang pemilu, namun alangkah baiknya berkampanye dengan memberikan karya nyata selama
5 tahun sebelum pemilu. Dengan sering berkomunikasi dengan rakyat dalam waktu yang demikian longgar, bukan tidak mungkin akan mengurangi perasaan skeptis
pada rakyat yang perlahan2 mulai "cerdas" untuk tidak terlalu percaya janji2 manis para calon legislatif menjelang pemilu. Dan bukan tidak mungkin pula dapat
mengurangi jumlah golput. Partai politikpun tak perlu terlalu intensif dengan cara menggenjot target dalam waktu 3 minggu ini. PAra ketua umumnya pun tidak
perlu berkelana seluruh Indonesia dalam waktu yang demikian singkatnya. TAk perlu pula harus sikat sana sikat sini menjatuhkan lawan dalam berkampanye.
Katanya, Si beliau telah kembali demi rakyat..Emang abis dari mana sih selama ini..:-(
Menanggapinya, penulis pun kemarin melakukan pesta ala rakyat kecil biasa. PEsta, karena perasaan penulis saat melakukannya mirip dengan perasaan ketika
menikmati hidangan pesta nan lezat. Yang penulis lakukan adalah menggoreng telur ceplok kemudian menikmatiny dengan nasi putih hangat yang diramaikan oleh
sambal kecap bawang merah+tomat. Nyamm...Nikmat nian. Hati dan Lidah serasa berpesta. Tak perlu biaya besar. Tak perlu panggung meriah. Tak perlu kaus2 ,
poster, pin, stiker. Perut kenyang, hati senang, lidah pun bergoyang. Benar2 kenikmatan rakyat..
11 Maret 2009
New type of interview
I just looked up a newspaper,KOMPAS n it enlisted lots of vacancies in KARIR section..
There was one thing that tickled me..
It was titled..."Walking Interview"....
It's interview while you walk with the interviewer..
he3x..
Actually, such things happened quite alot.
And i directly give the solution, it should've been "Walk in Interview". You come, submit the CV and directly be interviewed for the job..
Any other mistakes that any body finds and dont know the right answer? Let me know in ebonz_krenzy@yahoo.com. ANyone can participate.
It's not a matter who make mistakes but the willingness to develop through it..
There was one thing that tickled me..
It was titled..."Walking Interview"....
It's interview while you walk with the interviewer..
he3x..
Actually, such things happened quite alot.
And i directly give the solution, it should've been "Walk in Interview". You come, submit the CV and directly be interviewed for the job..
Any other mistakes that any body finds and dont know the right answer? Let me know in ebonz_krenzy@yahoo.com. ANyone can participate.
It's not a matter who make mistakes but the willingness to develop through it..
08 Januari 2009
The Real Marketer 2.0 by SWA Sembada
Itulah judul dari salah satu artikel dalam rubrik Sajian Utama majalah SWA Sembada no 26/XXV/4 terbitan 17 Desember 2008 yang baru saja saya baca. Dalam artikel ini, dipaparkan analisis dan hasil survey majalah tersebut mengenai profil seorang marketer yang dibutuhkan perusahaan di jaman sekarang.
Dalam artikel ini, dibahas mengenai perilaku marketer atau pemasar di jaman yang serba canggih. Dengan derasnya arus media sosial, blog, milis, pasar dinamis, pemasar seperti apa yang dibutuhkan.
Disini diceritakan pula mengenai kebiasaan mereka yang berkecimpung dalam dunia pemasaran. Ada yang diceritakan kesibukannya yang tak henti karena daerah tanggung jawabnya adalah ASEAN. Hal ini mengharuskannya siap sedia 24/7 jika pekerjaan memerlukannya. Ada pula yang saking sibuknya sampai ia bangun pagi jam5 pagi, tancap gas menuju kantor pukul 5.30, olahraga selama 1 jam lalu sarapan, lalu membaca laporan kantor cabang sebelum pukul 8. Aktivitas hari itu berhenti di pukul 21.00.
Secara umum dan singkat, berikut diberikan kriteria pemasar versi 2.0(dikutip dari SWA Sembada edisi 26/XXV/4 hal 34)
* Sangat bergantung pada notebook dan smartphone. Optimal dalam penggunaan kedua gadget tersebut.
* Bergabung secara intens dengan komunitas media online.
* Mobilitas tinggi, baik di dalam maupun diluar negeri.
* Punya pergaulan dan jaringan global.
* Haus informasi dan pengetahuan baru
* Memiliki blog atau website pribadi
* Terampil dan aktif melakukan riset untuk pengembangan bisnis, karir dan personal branding
* Bekerja tak kenal hari kerja atau hari pekan
* Aktif dan inovatif dalam mencari dan menerapkan terobosan-terobosan pemasaran.
Adapun beberapa tambahan dari menyimpulkan hasil survey yang dilakukan SWA, bahwa pemasar generasi baru ini :
* Mengecek email kebanyakan lebih dari 30 kali dalam sehari (bisa menggunakan fasilitas push email, misalnya).
* Mengikuti milis pemasaran
* Meng-update blog setiap 3minggu sampai sebulan sekali.
* Memiliki komunitas/jejaring online macam friendster, facebook, dan myspace
* Bekerja tak memilih lokasi. Kebanyakan bekerja, baik diluar maupun didalam kantor
* Selalu meng-update ide bisnis baru dan karir, baik dengan browsing di internet, membaca buku-buku pemasaran, mengikuti lokakarya/seminar baik dalam maupun luar negeri, ataupun hanya mengikuti milis
* Dan sering mempresentasikan ide/konsepnya pada orang lain.
Keterlibatan seorang pemasar diluar pekerjaannya yang seabrek dalam kegiatan-kegiatan ataupun mengikuti komunitas seperti motor gede, mobil, kuliner dipercaya sebagai cara mendapatkan ide-ide kreatif dan meneliti sudut pandang orang-orang dalam komunitas tersebut. Jadi, pemasar bukanlah pekerja kantor belaka yang kerja-pulang pukul 8-5 senin sampai jumat. Pemasar jaman sekarang pun harus mau sesekali melihat kondisi pasar yang sebenarnya dengan turun ke lapangan. Dan juga punya mental baja yang tahan penolakan, karena memasarkan produk tidak semudah menyuruh (calon) pelanggan untuk membeli produk yang ditawarkan. Apalagi menjadi pelanggan setia. Dunia seorang pemasar memanglah sangat dinamis.
Kedinamisan dunia pemasaran ini membuat banyak kaum muda seperti tersihir untuk terjun ke bidang ini karena menjanjika karir cerah dan penghasilan bagus (SWA Sembada edisi 26/XXV/4 hal 30:Profesi yang Kian Basah). Namun kaum muda pun harus memiliki modal seperti yang telah disebutkan diatas. Walaupun mungkin dapat dibayangkan beratnya jalan yang akan dilalui, majalah ini menyebutkan bahwa para peserta Young Marketer Award yang diselenggarakan oleh SWA bekerja sama dengan MarkPlus dan Indonesia Marketing Association ini pun rata-rata belajar pemasaran justru setelah memasuki dunia kerja. Jadi, peluang menjadi pemasar pun besar apapun latar pendidikannya. Hanya tinggal menyiapkan diri sendiri untuk menjawab tantangan sebagai pemasar.
Kenapa penulis membuat artikel ini? Ada beberapa hal yang mendasari penulis menuliskan hal ini. Pertama, karena isi artikel majalah SWA yang menarik, dinamis, menantang membuat penulis dapat menghabiskan hampir semua(termasuk iklan) materi majalah dalam 2 hari(efektif 4 jam). Dunia bisnis memang sangat dinamis. Agak bertolak belakang dengan kehidupan penulis yang agak monoton. Setelah membaca majalah tersebut, serasa kita bisa menggenggam dunia dengan kemampuan sendiri. Penulis juga berkeinginan untuk berbagi ilmu yang sedikit ini bagi teman-teman yang ingin menjajal dunia pemasaran. Hal ini penulis lihat dari rubrik Klasika Kompas yang berisi lowongan kerja yang banyak sekali menuliskan lowongan Management Trainee ataupun tenaga pemasaran. Walaupun pada entry level, hal-hal berikut sangat berbeda, namun jika prinsip-prinsip diatas sudah terpatri dalam prinsip, hal-hal ini yang bisa mengantar kita sukses di tingkat yang lebih tinggi. Jadi, walaupun materi majalah ini lebih cocok untuk para manajer, namun apa salahnya jika kita tahu duluan? Hal ini pula yang disadari penulis, karena lowongan pemasaran inilah salah satu lowongan yang dapat dijajal lulusan matematika (karena mencantumkan “untuk semua jurusan”). Karena tidak semua lulusan matematika bekerja dibidang matematika. Jadi, siapkah menerima tantangan menjadi pemasar?
Dalam artikel ini, dibahas mengenai perilaku marketer atau pemasar di jaman yang serba canggih. Dengan derasnya arus media sosial, blog, milis, pasar dinamis, pemasar seperti apa yang dibutuhkan.
Disini diceritakan pula mengenai kebiasaan mereka yang berkecimpung dalam dunia pemasaran. Ada yang diceritakan kesibukannya yang tak henti karena daerah tanggung jawabnya adalah ASEAN. Hal ini mengharuskannya siap sedia 24/7 jika pekerjaan memerlukannya. Ada pula yang saking sibuknya sampai ia bangun pagi jam5 pagi, tancap gas menuju kantor pukul 5.30, olahraga selama 1 jam lalu sarapan, lalu membaca laporan kantor cabang sebelum pukul 8. Aktivitas hari itu berhenti di pukul 21.00.
Secara umum dan singkat, berikut diberikan kriteria pemasar versi 2.0(dikutip dari SWA Sembada edisi 26/XXV/4 hal 34)
* Sangat bergantung pada notebook dan smartphone. Optimal dalam penggunaan kedua gadget tersebut.
* Bergabung secara intens dengan komunitas media online.
* Mobilitas tinggi, baik di dalam maupun diluar negeri.
* Punya pergaulan dan jaringan global.
* Haus informasi dan pengetahuan baru
* Memiliki blog atau website pribadi
* Terampil dan aktif melakukan riset untuk pengembangan bisnis, karir dan personal branding
* Bekerja tak kenal hari kerja atau hari pekan
* Aktif dan inovatif dalam mencari dan menerapkan terobosan-terobosan pemasaran.
Adapun beberapa tambahan dari menyimpulkan hasil survey yang dilakukan SWA, bahwa pemasar generasi baru ini :
* Mengecek email kebanyakan lebih dari 30 kali dalam sehari (bisa menggunakan fasilitas push email, misalnya).
* Mengikuti milis pemasaran
* Meng-update blog setiap 3minggu sampai sebulan sekali.
* Memiliki komunitas/jejaring online macam friendster, facebook, dan myspace
* Bekerja tak memilih lokasi. Kebanyakan bekerja, baik diluar maupun didalam kantor
* Selalu meng-update ide bisnis baru dan karir, baik dengan browsing di internet, membaca buku-buku pemasaran, mengikuti lokakarya/seminar baik dalam maupun luar negeri, ataupun hanya mengikuti milis
* Dan sering mempresentasikan ide/konsepnya pada orang lain.
Keterlibatan seorang pemasar diluar pekerjaannya yang seabrek dalam kegiatan-kegiatan ataupun mengikuti komunitas seperti motor gede, mobil, kuliner dipercaya sebagai cara mendapatkan ide-ide kreatif dan meneliti sudut pandang orang-orang dalam komunitas tersebut. Jadi, pemasar bukanlah pekerja kantor belaka yang kerja-pulang pukul 8-5 senin sampai jumat. Pemasar jaman sekarang pun harus mau sesekali melihat kondisi pasar yang sebenarnya dengan turun ke lapangan. Dan juga punya mental baja yang tahan penolakan, karena memasarkan produk tidak semudah menyuruh (calon) pelanggan untuk membeli produk yang ditawarkan. Apalagi menjadi pelanggan setia. Dunia seorang pemasar memanglah sangat dinamis.
Kedinamisan dunia pemasaran ini membuat banyak kaum muda seperti tersihir untuk terjun ke bidang ini karena menjanjika karir cerah dan penghasilan bagus (SWA Sembada edisi 26/XXV/4 hal 30:Profesi yang Kian Basah). Namun kaum muda pun harus memiliki modal seperti yang telah disebutkan diatas. Walaupun mungkin dapat dibayangkan beratnya jalan yang akan dilalui, majalah ini menyebutkan bahwa para peserta Young Marketer Award yang diselenggarakan oleh SWA bekerja sama dengan MarkPlus dan Indonesia Marketing Association ini pun rata-rata belajar pemasaran justru setelah memasuki dunia kerja. Jadi, peluang menjadi pemasar pun besar apapun latar pendidikannya. Hanya tinggal menyiapkan diri sendiri untuk menjawab tantangan sebagai pemasar.
Kenapa penulis membuat artikel ini? Ada beberapa hal yang mendasari penulis menuliskan hal ini. Pertama, karena isi artikel majalah SWA yang menarik, dinamis, menantang membuat penulis dapat menghabiskan hampir semua(termasuk iklan) materi majalah dalam 2 hari(efektif 4 jam). Dunia bisnis memang sangat dinamis. Agak bertolak belakang dengan kehidupan penulis yang agak monoton. Setelah membaca majalah tersebut, serasa kita bisa menggenggam dunia dengan kemampuan sendiri. Penulis juga berkeinginan untuk berbagi ilmu yang sedikit ini bagi teman-teman yang ingin menjajal dunia pemasaran. Hal ini penulis lihat dari rubrik Klasika Kompas yang berisi lowongan kerja yang banyak sekali menuliskan lowongan Management Trainee ataupun tenaga pemasaran. Walaupun pada entry level, hal-hal berikut sangat berbeda, namun jika prinsip-prinsip diatas sudah terpatri dalam prinsip, hal-hal ini yang bisa mengantar kita sukses di tingkat yang lebih tinggi. Jadi, walaupun materi majalah ini lebih cocok untuk para manajer, namun apa salahnya jika kita tahu duluan? Hal ini pula yang disadari penulis, karena lowongan pemasaran inilah salah satu lowongan yang dapat dijajal lulusan matematika (karena mencantumkan “untuk semua jurusan”). Karena tidak semua lulusan matematika bekerja dibidang matematika. Jadi, siapkah menerima tantangan menjadi pemasar?
03 Januari 2009
Comment for an article..
here is a comment for
a friend's article
Have u seen a programme "Vue du ciel"?
In one occasion, they told us the story about the scarcity of water especially in the middle east as it lies a lot of desserts. But, it is amazing to found out that there were ruins found in one of their desserts. It is said that it is the ruins of a city. A merchant city(city of trading) to be exact. And due to its scarcity for water, they made a policy to use it wisely together, free of charge. Imagine, suppose you have to share your water for other people to take a bath, feed their sheeps, and for wudhu in such places. It is very contrast to Jordan.
In jordan, people have to buy and queue for water. Especially in summer, as the temperature may reach 40 deg Celcius. To overcome such scarcity, the government tried to get water from one of the the river's branch of Jordan river. It implies in the decreasing water level of The Dead SEa..
It is also given that we only use at about 3% of earth's water. Then , Where is the other 97%? such percentage is summarized by the the reserved water into iceberg, oceans, and cave water..
In france, It means "SCenery from the sky(above)"
a friend's article
Have u seen a programme "Vue du ciel"?
In one occasion, they told us the story about the scarcity of water especially in the middle east as it lies a lot of desserts. But, it is amazing to found out that there were ruins found in one of their desserts. It is said that it is the ruins of a city. A merchant city(city of trading) to be exact. And due to its scarcity for water, they made a policy to use it wisely together, free of charge. Imagine, suppose you have to share your water for other people to take a bath, feed their sheeps, and for wudhu in such places. It is very contrast to Jordan.
In jordan, people have to buy and queue for water. Especially in summer, as the temperature may reach 40 deg Celcius. To overcome such scarcity, the government tried to get water from one of the the river's branch of Jordan river. It implies in the decreasing water level of The Dead SEa..
It is also given that we only use at about 3% of earth's water. Then , Where is the other 97%? such percentage is summarized by the the reserved water into iceberg, oceans, and cave water..
In france, It means "SCenery from the sky(above)"
Langganan:
Postingan (Atom)