Cerita "When Tomorrow Comes" ditulis oleh Peter O'Connor, penulis berkebangsaan Australia dan kemudian dialihbahasakan Lulu Wijaya. Cerita ini merupakan bagian dari buku terbitan Gramedia yang juga memuat cerita Peter O'Connor lainnya yang berjudul "Seeking Daylight's End(Mengejar Matahari)".
cerita ini berawal dari keinginan seorang kakek bernama Joseph untuk pergi melihat gerhana matahari sebagai petualang terakhir yang ingin ia lakukan untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggal dunia karena penyakit kanker yang menggerogotinya. Hal ini dilakukan sebagai keinginan terakhirnya karena pada 4 kesempatan sebelumnya ia selalu gagal untuk melihat gerhana matahari. Lokasi yang diinginkan adalah Ceduna, sangat jauh dari Queensland dimana ia dirawat. Hal ini tentu saja mendapatkan tentangan dari keluarganya. Namun begitu, jiwa petualang Joseph yang tidak menerima hidupnya berakhir di rumah sakit menunggu kematian menjemput tidak menyurutkan keinginan Joseph untuk bertualang melihat gerhana matahari Ceduna. Ia pun mengajak cucunya Sarah untuk ikut serta , walau tanpa Sarah pun Joseph tetap pergi. Joseph juga memberikan buku hariannya yang ditulis di usia senjanya kepada SArah, padahal buku itu tak pernah ia ijinkan untuk dibaca orang lain selain istrinya. Setelah mengalami konflik batin yang cukup lama, akhirnya Sarah memutuskan menemani kakeknya bertualang menuju Ceduna.
Sarah yang belum pernah melakukan petualangan sebelumnya banyak melakukan hal-hal baru seperti mengendarai mobil dobel gardan yang disewa kakeknya, padahal ia terbiasa mengendarai mobil transmisi otomatis untuk berangkat kerja. Selama perjalanan, mereka menyempatkan diri untuk singgah dibeberapa tempat yang belum pernah SArah kunjungi. SArah pun merasa senang karena ia menemukan jiwanya yang hilang, bisa mendengarkan kisah-kisah kakek rentanya, mengambil gambar-gambar menakjubkan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Walaupun kakeknya terus menutupi keadaan bahwa penyakitnya makin cepat menggerogotinya. Membuatnya semakin cepat mendekati kematian.
Beberapa hari sebelum peristiwa gerhana terjadi, tiba-tiba kakeknya tidak sadarkan diri dan terpaksa kembali dirawat di kota Port Augusta yang dekat dengan Ceduna. Sarah pun kembali mengalami konflik batin, antara menjaga kakek tersayangnya atau meneruskan perjalanan. Tentu saja, Joseph meminta Sarah untuk meneruskan perjalanan dan memotret gerhana sebagai hadiah terakhir untuknya. Akhirnya, dengan berat hati, Sarah pun segera pergi ke Ceduna, tujuan utama perjalanannya. Disana, ia menyadari kenapa kakeknya begitu ngotot ingin pergi. Ia melihat keindahan dan keajaiban alam disana. Sesuatu yang ia senangi dari lubuk hatinya. Kalau saja ia terlalu lama terpukau gerhana, mungkin ia lupa mengambil gambar gerhana untuk kakeknya. Di rumah sakit, kakeknya pun melihat gerhana melalui teleskop kertas. Senyum manis mengantarkannya meninggalkan dunia.
Joseph adalah seseorang yang mempunyai prinsip "Yang penting adalah hidup macam mana yang kita jalani, bukan berapa lama kita hidup" dan " Uang memang penting, tapi hidupmu lebih penting". Hal ini didasari pada pengalamannya sebagai prajurit di medan perang. Disana, ia menyadari betapa pentingnya hidup dan betapa singkatnya hidup ini untuk disia-siakan. Ia juga merupakan orang yang memegang kendali atas hidupnya sendiri. Hal yang jarang ia lihat pada kebanyakan orang karena kebanyakan orang yang masa depannya ditentukan oleh orang lain. Oleh karenanya, ia meninggalkan rumah pada usia muda, ikut berperang, berpetualang, berkelana, mencoba-coba hal baru. Si kakek ini juga tidak setuju dengan pendapat bahwa orang yang sudah dekat kematian harus hidup selama mungkin demi keluarganya walaupun harus terus menerus dirawat di rumah sakit, tanpa bisa melakukan aktivitas apa-apa. Baginya, orang seperti itu sudah lama mati walau dibantu dengan alat medis, karena ia sudah tidak bisa melakukan apapun.
Cerita ini memberikan inspirasi pada kita untuk melakukan apa yang kita inginkan tanpa harus selalu mematuhi orang lain apalagi sampai menentukan masa depan kita. Kita diingatkan untuk menikmati hidup dengan cara yang kita inginkan, karena hidup itu hanya sementara. Meraih cita-cita dan impian adalah suatu keharusan agar kita merasa 'hidup'. Hidup bukanlah sesuatu yang mengekang kita dalam rutinitas sehingga tanpa sadar kita sudah melewati hampir seluruh masa hidup kita tanpa pernah meraih kehidupan itu sendiri dan menyesal kemudian hari.
Namun, terkadang di mata orang lain, hal ini dianggap egois karena hanya menginginkannya demi kepuasan diri sendiri. dianggap Liar, karena pergi berpetualang sehingga meninggalkan keluarga sedemikian lama hanya untuk kesenangan pribadi. Tak bermasa depan, karena hal-hal yang ingin dicapai tidak menghasilkan penghasilan yang sepadan demi keluarga. Dan melakukan banyak hal yang dipandang sia-sia oleh orang lain walau yang demikian itu bermakna sekali bagi kita. Kita mungkin ingin membuka toko bunga kecil-kecilan walau bisa melamar di perusahaan akuntan publik terkemuka. Mungkin saja ingin bepergian berkeliling Indonesia sampai ke perbatasan untuk mengambil gambar keadaan saudara kita disana. Atau sekedar mendendangkan syair-syair merdu untuk menghibur orang. Dan masih banyak hal lain. Yang sepele namun bermakna dalam bagi kita. Apalagi terkadang kesuksesan seseorang dinilai oleh uang. Sukses adalah kebebasan finansial. Sukses adalah kemampuan untuk menjadi seseorang yang disegani. Sukses berarti mampu membeli banyak mobil, rumah dan perlengkapan elektronik. Sukses itu bisa menikahi wanita cantik. Sukses membawa kebahagiaan (apa iya?)
Kita memang sadar bahwa uang memang penting dalam hidup, tapi apakah sebegitu pentingnya sampai kita rela melepas hidup? Bagaimana dengan anda?
Blog ini adalah cuplikan kisah sehari2 yang sempat tertulis. Demikian pula dengan beberapa pemikiran ataupun "ilham" yang menyambangi...
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
09 Desember 2009
22 Maret 2009
Resensi Energy Beyond oil
Ini adalah salah satu buku yang layak untuk dibaca(atau diunduh alias download) bagi mereka yang ingin tahu apa sajakah sumber energi alternatif untuk menggantikan peran minyak di masa depan. Seperti yang kita tahu, belakangan ini makin besar kekhawatiran mengenai ketersediaan energi di masa depan karena minyak merupakan sumber daya alam yang tak terbarukan. Kesimpangsiuran mengenai kapan "peak oil" akan terjadi juga menjadikan masyarakat dunia sempat khawatir akan ketersediaan minyak. Bahkan, tahun kemarin, harga minyak sempat mencapai rekor tertingginya dalam sejarah manusia. Sebenarnya, sumber energi apa saja kah yang dapat kita gunakan sepeninggal minyak dan gas.
Selain masalah ketersediaan, masalah lain mengenai penggunaan minyak adalah pada masalah polusi yang ditimbulkannya. Masalah ini berkaitan dengan minyak dan bahan bakar fosil dalam penggunaannya merupakan salah satu penyebab terjadinya global Warming. Ditambah lagi, penggunaan minyak terbesar adalah untuk pembangkit listrik, diikuti oleh transportasi. Oleh karena itu, di tahun 2005, St John College, London mengadakan Workshop sehari dengan tema "Energy...beyond oil". Hasilnya adalah kumpulan dari makalah2 pembicara dijadikan buku ini.
Buku ini membahas mengenai masalah2 energi seperti yang diberikan sekelumit diatas, juga membahas mengenai alternatif2 energi seperti : Geothermal, Ombak dan gelombang laut, angin, nuklir, energi fusi, matahari, biosolar, hidrogen. Selain itu, dibahas pula mengenai efisiensi energi dalam desain bangunan dan menjalankan transformasi ke energi ekonomi baru. Pada masing2 bahasan mengenai sumber energi alternatif, diberikan mengenai gambaran umum penggunaan dan cara memperoleh energi tersebut. Ditambah pula tentang kelebihan dan kekurangan dari pengunaan masing2 energi tersebut.
Yang perlu penulis garisbawahi adalah dari beberapa sumber alternatif energi tersebut, energi panas bumi(geothermal) adalah yang paling potensial dilaksanakan di Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki banyak gunung berapi yang masih aktif dan energinya dapat digunakan sebagai pembangkit listrik untuk jangka waktu yang sangat lama. Begitu pula dengan biosolar dan tenaga surya. Keduanya sangat potensial untuk digunakan di indonesia, namun masih terkendala dengan teknologi. TErlebih, eksploitasi biosolar dipandang dapat mengganggu ketersediaan pangan dan memangkas hutan hujan tropis. Walaupun Indonesia merupakan negara maritim, namun penggunaan energi ombak masih terkendala dengan teknologi dan investasi yang masih sangat tinggi.
Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kita belum punya kandidat kuat untuk pengganti bahan bakar fosil yang selama ini kita gunakan. Kelebihan dari bahan bakar fosil khususnya minyak dan gas adalah kemudahan dalam memperoleh dan pengiriman dan penggunaannya. Hal ini sebaiknya tidak membuat kita berputus asa untuk terus mencari dan mendukung tersedianya energi baru untuk generasi berikutnya. Mari kita terus kembangkan teknologi!
Selain masalah ketersediaan, masalah lain mengenai penggunaan minyak adalah pada masalah polusi yang ditimbulkannya. Masalah ini berkaitan dengan minyak dan bahan bakar fosil dalam penggunaannya merupakan salah satu penyebab terjadinya global Warming. Ditambah lagi, penggunaan minyak terbesar adalah untuk pembangkit listrik, diikuti oleh transportasi. Oleh karena itu, di tahun 2005, St John College, London mengadakan Workshop sehari dengan tema "Energy...beyond oil". Hasilnya adalah kumpulan dari makalah2 pembicara dijadikan buku ini.
Buku ini membahas mengenai masalah2 energi seperti yang diberikan sekelumit diatas, juga membahas mengenai alternatif2 energi seperti : Geothermal, Ombak dan gelombang laut, angin, nuklir, energi fusi, matahari, biosolar, hidrogen. Selain itu, dibahas pula mengenai efisiensi energi dalam desain bangunan dan menjalankan transformasi ke energi ekonomi baru. Pada masing2 bahasan mengenai sumber energi alternatif, diberikan mengenai gambaran umum penggunaan dan cara memperoleh energi tersebut. Ditambah pula tentang kelebihan dan kekurangan dari pengunaan masing2 energi tersebut.
Yang perlu penulis garisbawahi adalah dari beberapa sumber alternatif energi tersebut, energi panas bumi(geothermal) adalah yang paling potensial dilaksanakan di Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki banyak gunung berapi yang masih aktif dan energinya dapat digunakan sebagai pembangkit listrik untuk jangka waktu yang sangat lama. Begitu pula dengan biosolar dan tenaga surya. Keduanya sangat potensial untuk digunakan di indonesia, namun masih terkendala dengan teknologi. TErlebih, eksploitasi biosolar dipandang dapat mengganggu ketersediaan pangan dan memangkas hutan hujan tropis. Walaupun Indonesia merupakan negara maritim, namun penggunaan energi ombak masih terkendala dengan teknologi dan investasi yang masih sangat tinggi.
Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kita belum punya kandidat kuat untuk pengganti bahan bakar fosil yang selama ini kita gunakan. Kelebihan dari bahan bakar fosil khususnya minyak dan gas adalah kemudahan dalam memperoleh dan pengiriman dan penggunaannya. Hal ini sebaiknya tidak membuat kita berputus asa untuk terus mencari dan mendukung tersedianya energi baru untuk generasi berikutnya. Mari kita terus kembangkan teknologi!
13 November 2008
Resensi Rumah Tumbuh
Selamat pagi dunia.
Setelah berjemur matahari pagi untuk memanaskan mesin dalam diri ini untuk berproduksi kembali yang dimulai dengan memberikan resensi dari sebuah novel mini. dekat dengan Chicklit lah.
Judul novel ini adalah Rumah Tumbuh. Buku ini dibeli secara obralan Gramedia oleh fitrah yang dititipkan padaku. Baru tertarik membacanya setelah semalam bergulat dengan kesuntukan dan kemalasan diri. Novel ini ditulis oleh farah Hidayati, Juara sayembara mengarang novel remaja kerjasama Grasindo dengan Ranesi 2005.
Novel ini bercerita tentang Ghifari dan Alysa, 2 orang siswa SMA berusia 16tahun. Seluruh isi novel ini adalah cerita dari sudut pandang kedua tokoh utamanya. Setting cerita berada di Banjarmasin (yang disisipi ciri khasnya, tentunya) sekitar tahun 2000-2002.
Ghifa adalah anak lembut, penuh detail, berasal dari keluarga sederhana cinta daerah sungai yang pindah dari kawasan pinggiran kota karena fitnah dari lingkungan sekitarnya, sedangkan Alysa, ketua klub mading disekolahnya adalah anak orang berada yang idealis, ambisius untyuk membuktikan diri sendiri bahwa dia bukan seseorang yang sia-sia seperti yang dirasakan dalam keluarganya. Dua tokoh yang berbeda karakter ini dipertemukan sebagai dua orang yang saling sengit karena berbeda latar belakang dan pemikiran ini perlahan-lahan disatukan oleh kejadian-kejadian dalam klub mading.
Ditambah dengan keseharian mereka yang lambat laun mulai merasa membutuhkan satu sama lain. Ghifa yang sedang mencoba meninggalkan masa lalu terhadap seorang gadis desa yang mengecewakannya menemukan Alysa. Ia pada awalnya merasa heran karena selalu bisa awas akan keberadaan Alysa disekitarnya. Alysa menemukan warna unik dari Ghifa dan mulai untuk memikirkannya terus-menerus.
Konflik terjadi karena kehancuran Alysa terhadap kebanggaan ayahnya dan rumah yang diarsitekinya karena Ayahnya tersandung skandal kolusi. Sedangkan ghifa merasa rendah membandingkan dirinya dengan Josi, pacar Alysa di Amerika yang berada, tinggi, dan serba lebih dari Ghifa. Terlebih karena statusnya sebagai pacar Alysa membuatnya sadar bahwa Ghifa yang hanya dekat dengan Alysa tidak memberi kemungkinan untuk memiliki Alysa.
Akhir cerita ini ditutup dengan happy ending yang menggantung, yaitu ketika Alysa yang masih remuk karena skandal ayahnya dibawa Ghifa menonton konser Gigi, grup musik kesukaan alysa. Disitu hanya digambarkan Ghifa membiarkan Alysa menikmati konser dengan tangan Alysa melingkar dipinggang Ghifa sambil bersandar pada bahunya. (%maaf ya susunan katanya. Kritik perbaikan diharapkan.).
Walaupun novel ini diobral, tapi saya kagum dengan kejelian fitrah dalam memilih novel. Berpengalaman sebelumnya membeli novel "Luna" yang merupakan tulisan yang memenangi sebuah sayembara. Rumah Tumbuh merupakan novel ringan yang easy-going. Enak dibaca di waktu senggang dan tidak memerlukan imajinasi tinggi. Penyusunan kalimatnya pun cerdik. Tak bosan 1 jam membacanya. Alur ini membawa pembaca dalam masa SMA yang naif, lugu, menggebu sehingga nuansa romantis pun menggelora menggelayuti imaji. (%tak seperti resensi ini...).
Buku ini dapat menyegarkan pikiran dengan semangat yang diadaptasi dari semangat remaja SMA yang menggebu. Namun, untuk beberapa hal, tentu kita yang agak dewasa bisa memilah pengaruh dari buku ini. Buku ini pun bisa dijadikan alat untuk mengingat kembalui masa remaja kita. Betapa lucunya kita saat itu. Namun, semangat, cita-cita dan kerja kerja kita tentu tidak boleh pudar karena usia!
unofficial note : buat teman-teman yang sedang kebelet nikah, hati-hati membacanya. Dalam buku, terdapat sedikit bagian yang menyinggung tentang keinginan dan cita-cita untuk menikah. Bahkan sedikit bayangan ketika menikah nanti. So Romantic. Remaja 16thn pun berpikiran sejauh itu toh?he3x..
Setelah berjemur matahari pagi untuk memanaskan mesin dalam diri ini untuk berproduksi kembali yang dimulai dengan memberikan resensi dari sebuah novel mini. dekat dengan Chicklit lah.
Judul novel ini adalah Rumah Tumbuh. Buku ini dibeli secara obralan Gramedia oleh fitrah yang dititipkan padaku. Baru tertarik membacanya setelah semalam bergulat dengan kesuntukan dan kemalasan diri. Novel ini ditulis oleh farah Hidayati, Juara sayembara mengarang novel remaja kerjasama Grasindo dengan Ranesi 2005.
Novel ini bercerita tentang Ghifari dan Alysa, 2 orang siswa SMA berusia 16tahun. Seluruh isi novel ini adalah cerita dari sudut pandang kedua tokoh utamanya. Setting cerita berada di Banjarmasin (yang disisipi ciri khasnya, tentunya) sekitar tahun 2000-2002.
Ghifa adalah anak lembut, penuh detail, berasal dari keluarga sederhana cinta daerah sungai yang pindah dari kawasan pinggiran kota karena fitnah dari lingkungan sekitarnya, sedangkan Alysa, ketua klub mading disekolahnya adalah anak orang berada yang idealis, ambisius untyuk membuktikan diri sendiri bahwa dia bukan seseorang yang sia-sia seperti yang dirasakan dalam keluarganya. Dua tokoh yang berbeda karakter ini dipertemukan sebagai dua orang yang saling sengit karena berbeda latar belakang dan pemikiran ini perlahan-lahan disatukan oleh kejadian-kejadian dalam klub mading.
Ditambah dengan keseharian mereka yang lambat laun mulai merasa membutuhkan satu sama lain. Ghifa yang sedang mencoba meninggalkan masa lalu terhadap seorang gadis desa yang mengecewakannya menemukan Alysa. Ia pada awalnya merasa heran karena selalu bisa awas akan keberadaan Alysa disekitarnya. Alysa menemukan warna unik dari Ghifa dan mulai untuk memikirkannya terus-menerus.
Konflik terjadi karena kehancuran Alysa terhadap kebanggaan ayahnya dan rumah yang diarsitekinya karena Ayahnya tersandung skandal kolusi. Sedangkan ghifa merasa rendah membandingkan dirinya dengan Josi, pacar Alysa di Amerika yang berada, tinggi, dan serba lebih dari Ghifa. Terlebih karena statusnya sebagai pacar Alysa membuatnya sadar bahwa Ghifa yang hanya dekat dengan Alysa tidak memberi kemungkinan untuk memiliki Alysa.
Akhir cerita ini ditutup dengan happy ending yang menggantung, yaitu ketika Alysa yang masih remuk karena skandal ayahnya dibawa Ghifa menonton konser Gigi, grup musik kesukaan alysa. Disitu hanya digambarkan Ghifa membiarkan Alysa menikmati konser dengan tangan Alysa melingkar dipinggang Ghifa sambil bersandar pada bahunya. (%maaf ya susunan katanya. Kritik perbaikan diharapkan.).
Walaupun novel ini diobral, tapi saya kagum dengan kejelian fitrah dalam memilih novel. Berpengalaman sebelumnya membeli novel "Luna" yang merupakan tulisan yang memenangi sebuah sayembara. Rumah Tumbuh merupakan novel ringan yang easy-going. Enak dibaca di waktu senggang dan tidak memerlukan imajinasi tinggi. Penyusunan kalimatnya pun cerdik. Tak bosan 1 jam membacanya. Alur ini membawa pembaca dalam masa SMA yang naif, lugu, menggebu sehingga nuansa romantis pun menggelora menggelayuti imaji. (%tak seperti resensi ini...).
Buku ini dapat menyegarkan pikiran dengan semangat yang diadaptasi dari semangat remaja SMA yang menggebu. Namun, untuk beberapa hal, tentu kita yang agak dewasa bisa memilah pengaruh dari buku ini. Buku ini pun bisa dijadikan alat untuk mengingat kembalui masa remaja kita. Betapa lucunya kita saat itu. Namun, semangat, cita-cita dan kerja kerja kita tentu tidak boleh pudar karena usia!
unofficial note : buat teman-teman yang sedang kebelet nikah, hati-hati membacanya. Dalam buku, terdapat sedikit bagian yang menyinggung tentang keinginan dan cita-cita untuk menikah. Bahkan sedikit bayangan ketika menikah nanti. So Romantic. Remaja 16thn pun berpikiran sejauh itu toh?he3x..
Langganan:
Postingan (Atom)