Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

25 September 2010

The short Story of Seeking Daylight's End

This book tells a story of a young and daring eagle Talan, making a journey that any other eagle would think more than twice to do it; "Seeking the place where the sun ceases".

Talan and his eagle clan lived in a mountain range. They had been living there for years in content. They had regular meetings where the elders give stories of wisdom. Then, there was one respected elder who hadn't told stories for long step up and tell them that intrigued Talan to know what there are beyond the mountain range. After confirming Talan of his intention, Cael gave Talan a simple guidance : "Listen the wisdom whispered by the wind".

Then Talan was off to his new journey. Talan experienced a lot of things;face-to-face to a kind human, getting through snow blizzard, and being cheated by two crows. The last thing Talan can be amazed about was that Talan found another eagle clan; and they mentioned Cael. Talan surprised by the fact that Cael did the same journey as he just had, very long time ago. Talan decided to lead the rest of the clan to his clan, intending to meet them with Cael.

From this journey, Talan benefited from the invaluable experiences. Talan, from a young and daring eagle, became a brave and wise eagle. He was finally able to hear wisdoms from the wind, something other eagle would never able to do. Talan had become a mature eagle.

What I benefit myself from this book is that it encourage us to do something we hadn't dare enough to do, to do something we haven't got enough courage while in the other hand we wanted to do those things very bad. The "wisdom whispered by the wind", for me, is one way to show that if we are patient enough, GOD will whisper us the hints in miraculous ways. The same thing happens to ourselves, when we are confused and have no where to go and suddenly, our heart whisper us the unexpected ideas or thought. Haven't you got those experience? This book also encourage me to go out of myself and do some effort in order to become "a better me".

I waonder if this book sometimes are not available in book stores. I hope you enjoy it as much as i do.

09 Desember 2009

Resensi "When Tomorrow Comes(Gerhana Terakhir)"

Cerita "When Tomorrow Comes" ditulis oleh Peter O'Connor, penulis berkebangsaan Australia dan kemudian dialihbahasakan Lulu Wijaya. Cerita ini merupakan bagian dari buku terbitan Gramedia yang juga memuat cerita Peter O'Connor lainnya yang berjudul "Seeking Daylight's End(Mengejar Matahari)".

cerita ini berawal dari keinginan seorang kakek bernama Joseph untuk pergi melihat gerhana matahari sebagai petualang terakhir yang ingin ia lakukan untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggal dunia karena penyakit kanker yang menggerogotinya. Hal ini dilakukan sebagai keinginan terakhirnya karena pada 4 kesempatan sebelumnya ia selalu gagal untuk melihat gerhana matahari. Lokasi yang diinginkan adalah Ceduna, sangat jauh dari Queensland dimana ia dirawat. Hal ini tentu saja mendapatkan tentangan dari keluarganya. Namun begitu, jiwa petualang Joseph yang tidak menerima hidupnya berakhir di rumah sakit menunggu kematian menjemput tidak menyurutkan keinginan Joseph untuk bertualang melihat gerhana matahari Ceduna. Ia pun mengajak cucunya Sarah untuk ikut serta , walau tanpa Sarah pun Joseph tetap pergi. Joseph juga memberikan buku hariannya yang ditulis di usia senjanya kepada SArah, padahal buku itu tak pernah ia ijinkan untuk dibaca orang lain selain istrinya. Setelah mengalami konflik batin yang cukup lama, akhirnya Sarah memutuskan menemani kakeknya bertualang menuju Ceduna.

Sarah yang belum pernah melakukan petualangan sebelumnya banyak melakukan hal-hal baru seperti mengendarai mobil dobel gardan yang disewa kakeknya, padahal ia terbiasa mengendarai mobil transmisi otomatis untuk berangkat kerja. Selama perjalanan, mereka menyempatkan diri untuk singgah dibeberapa tempat yang belum pernah SArah kunjungi. SArah pun merasa senang karena ia menemukan jiwanya yang hilang, bisa mendengarkan kisah-kisah kakek rentanya, mengambil gambar-gambar menakjubkan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Walaupun kakeknya terus menutupi keadaan bahwa penyakitnya makin cepat menggerogotinya. Membuatnya semakin cepat mendekati kematian.

Beberapa hari sebelum peristiwa gerhana terjadi, tiba-tiba kakeknya tidak sadarkan diri dan terpaksa kembali dirawat di kota Port Augusta yang dekat dengan Ceduna. Sarah pun kembali mengalami konflik batin, antara menjaga kakek tersayangnya atau meneruskan perjalanan. Tentu saja, Joseph meminta Sarah untuk meneruskan perjalanan dan memotret gerhana sebagai hadiah terakhir untuknya. Akhirnya, dengan berat hati, Sarah pun segera pergi ke Ceduna, tujuan utama perjalanannya. Disana, ia menyadari kenapa kakeknya begitu ngotot ingin pergi. Ia melihat keindahan dan keajaiban alam disana. Sesuatu yang ia senangi dari lubuk hatinya. Kalau saja ia terlalu lama terpukau gerhana, mungkin ia lupa mengambil gambar gerhana untuk kakeknya. Di rumah sakit, kakeknya pun melihat gerhana melalui teleskop kertas. Senyum manis mengantarkannya meninggalkan dunia.

Joseph adalah seseorang yang mempunyai prinsip "Yang penting adalah hidup macam mana yang kita jalani, bukan berapa lama kita hidup" dan " Uang memang penting, tapi hidupmu lebih penting". Hal ini didasari pada pengalamannya sebagai prajurit di medan perang. Disana, ia menyadari betapa pentingnya hidup dan betapa singkatnya hidup ini untuk disia-siakan. Ia juga merupakan orang yang memegang kendali atas hidupnya sendiri. Hal yang jarang ia lihat pada kebanyakan orang karena kebanyakan orang yang masa depannya ditentukan oleh orang lain. Oleh karenanya, ia meninggalkan rumah pada usia muda, ikut berperang, berpetualang, berkelana, mencoba-coba hal baru. Si kakek ini juga tidak setuju dengan pendapat bahwa orang yang sudah dekat kematian harus hidup selama mungkin demi keluarganya walaupun harus terus menerus dirawat di rumah sakit, tanpa bisa melakukan aktivitas apa-apa. Baginya, orang seperti itu sudah lama mati walau dibantu dengan alat medis, karena ia sudah tidak bisa melakukan apapun.

Cerita ini memberikan inspirasi pada kita untuk melakukan apa yang kita inginkan tanpa harus selalu mematuhi orang lain apalagi sampai menentukan masa depan kita. Kita diingatkan untuk menikmati hidup dengan cara yang kita inginkan, karena hidup itu hanya sementara. Meraih cita-cita dan impian adalah suatu keharusan agar kita merasa 'hidup'. Hidup bukanlah sesuatu yang mengekang kita dalam rutinitas sehingga tanpa sadar kita sudah melewati hampir seluruh masa hidup kita tanpa pernah meraih kehidupan itu sendiri dan menyesal kemudian hari.

Namun, terkadang di mata orang lain, hal ini dianggap egois karena hanya menginginkannya demi kepuasan diri sendiri. dianggap Liar, karena pergi berpetualang sehingga meninggalkan keluarga sedemikian lama hanya untuk kesenangan pribadi. Tak bermasa depan, karena hal-hal yang ingin dicapai tidak menghasilkan penghasilan yang sepadan demi keluarga. Dan melakukan banyak hal yang dipandang sia-sia oleh orang lain walau yang demikian itu bermakna sekali bagi kita. Kita mungkin ingin membuka toko bunga kecil-kecilan walau bisa melamar di perusahaan akuntan publik terkemuka. Mungkin saja ingin bepergian berkeliling Indonesia sampai ke perbatasan untuk mengambil gambar keadaan saudara kita disana. Atau sekedar mendendangkan syair-syair merdu untuk menghibur orang. Dan masih banyak hal lain. Yang sepele namun bermakna dalam bagi kita. Apalagi terkadang kesuksesan seseorang dinilai oleh uang. Sukses adalah kebebasan finansial. Sukses adalah kemampuan untuk menjadi seseorang yang disegani. Sukses berarti mampu membeli banyak mobil, rumah dan perlengkapan elektronik. Sukses itu bisa menikahi wanita cantik. Sukses membawa kebahagiaan (apa iya?)

Kita memang sadar bahwa uang memang penting dalam hidup, tapi apakah sebegitu pentingnya sampai kita rela melepas hidup? Bagaimana dengan anda?