Tampilkan postingan dengan label balikpapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label balikpapan. Tampilkan semua postingan

19 September 2009

Persiapan menuju lebaran







Sekian gambar diatas adalah sebagian potret masyarakat yang mempersiapkan Lebaran dengan berbelanja ke pasar tradisional Pandansari di daerah KebunSayur di Balikpapan. Banyak sekali pengunjung maupun pedagang kagetan di pasar ini di 3 hari menjelang lebaran.

Diatas ada potret anak kecil yang menunggui dagangannya berupa daun sop dan jeruk nipis. Mereka (menurut saya) adalah salah satu dari pedagang kaget yang menggali rezeki dari ramainya pengunjung pasar. Mereka tidak mempunyai los sendiri, oleh karena itu, mereka menaruh dagangannya di tangga di atas bagian daging (ayam, sapi, ikan). Semoga bisa menjadi cerminan agar kita lebih bersyukur.

Dan selain itu, ada yang menarik perhatian saya. Sebuah taksi(sebutan warga balikpapan untuk 'Angkutan Kota') trayek no.5 atau warna kuning dari Toyota Kijang tahun '80an masih dipakai untuk mengangkut ibu2 yang berbelanja. untuk diketahui, mobil tua ini sudah tergusur oleh taksi-taksi lain yang dirakit dari minibus carry, bahkan kijang diesel. Melihat taksi ini, timbul kenangan ketika kecil dulu. Kami dulu biasa naik taksi dari mobil tua ini untuk pulang sekolah. Saat itupun , taksi ini sudah kelihatan tua. Apalagi sekarang.

Bagi yang kangen, silakan dipandang lama-lama..

Taqabalallohu mina wa minkum. Minal aidin wal faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Semoga RAmadhan ini telah memberikan pelajaran bagi kita dan kita bertemu lagi dengannya tahun depan. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik tiap bulannya. Amin...

04 April 2009

Kisah Lem besi

Beberapa hari yang lalu, bapakku mencari2 lem besi. Mendengar kata "lem besi", aku tersenyum geli sendiri. Ada apa gerangan?

Lem besi memberikan kenangan sendiri bagiku. Hal ini terjadi ketika aku masih duduk di kelas satu smp. Waktu itu, aku memakai sepatu baru. Sepatu itu masih baru2nya ketika akan kupakai bermain bola di lapangan besar untuk pertama kalinya. Dengan bangganya, sepatu baru yang tampak besar itu kupakai.

Yang tak disangka2 terjadi. Sepatu itu--yang notabene bukan sepatu bola, melainkan sepatu sekolah biasa--mengalami kerusakan pada solnya. Solnya bolong pada hampir tiap bagiannya..DUH!!

Keesokan harinya kuputuskan untuk mencari cara agar sepatu itu tetap bisa kupakai seperti sedia kala. Bahan yang ada saat itu kuanggap mungkin untuk memuluskan keinginan polosku adalah sirap dan lem besi. Yak, sirap dan lem besi. Dengan mengendap2, ku patah2kan beberapa potong sirap lalu kutempelkan ke alas sepatu dengan lem besi. Lembaran sirap itu kujadikan pengganti sol sepatu.

Rencana ini nampaknya berjalan mulus untuk beberapa hari sebelum akhirnya ketahuan oleh orangtuaku. Aku tak dimarahi karena penyalahgunaan sepatu dan lem besi, namun karena tidak jujur kepada mereka. Aku terlalu polos untuk meminta sepatu baru. :p..

AKhirnya, aku dibelikan sepatu baru. Dan kisah ini menjadikan suatu kenangan yang mungkin hanya teringat ketika terdengar kata kunci "lem besi".

------------------------------------------------------------------------------------------
Glue for metal material

A few days ago, my dad was looking for this kind glue. Then, i remembered a funny story of mine. Do you have any idea what it is about?

That glue gave me something funny to remember. It happened when I was in my fisrt year of junior high school. It is equivalent to class VII. I was happy because I got a pair of new shoes. Then, I wore them for playing football, but not in the small court..hmm..It was my first time, though. I couldnt wait for my first experience in it.

I was shocked when I found out that something bad happened. There were holes in both of my soles. I terribly played wearing shoes that were not designed for playing football..

The next day, I searched for the best possible way to hide the holes. Instead of thinking of taking them to sole-fixer, I chose some sirap(piece of wood used to build fence) and that glue--glue for metal material. I sticked some piece of sirap using the glue to cover the holes.

The plan went well for a few days until my parents found out. I was thankful that they were not mad at me for the holes, but for not saying the truth. I was too plain young to ask for a quick replacement for my shoes at the time.

Finally, They bought me a new pair. It is some memory that was triggered by keyword :"glue fo metal material".

23 Maret 2009

Bibi Gado2 dan Es Cendol

Di balikpapan, dapat dengan mudah kita temui pasangan dua wanita ini berjalan berdampingan. Mereka adalah rekan kerja yang saling bahu-membahu dalam usaha berdagang es cendol dan gado2/rujak. Yang satu menjual gado2 dan rujak, dan yang satunya lagi berjualan es cendol. Mereka merupakan pedagang tradisional yang menjajakan dagangannya dengan berkeliling(berjalan kaki) menyambangi para calon pelanggannya dari rumah ke rumah. Dengan logat madura, mereka meneriakkan dagangan mereka, "Do..Gaddoo...Es Cendooolll...". Kami pun biasa memanggilnya dengan sebutan " Bibi gado2 dan Bibi Rujak". Untuk selanjutnya, kita akan menyebut kedua wanita tersebut dengan "Si Bibi". Tidak seperti pedagang lain yang menggunakan gerobak sebagai alat bantu mereka berdagang, si bibi berdagang dengan menggunakan semacam meja kayu yang dibawa dengan menaruhnya di kepala si bibi. "Meja" ini berisikan segala macam bahan dan alat untuk meracik Gado maupun es cendol. JAdi, ketika ada pelanggan memanggil, mereka akan menaruhnya ke lantai dan mulai melayani si pelanggan.







Kalau kita membayangkan keadaan kota di Balikpapan yang penduduknya kebanyakan bertempat tinggal di kawasan perbukitan yang terkadang terjal, usaha dagang semacam ini pun tak bisa dibilang gampang. Jika menggunakan gerobak, untuk mendatangi pelanggan yang tinggal di daerah perbukitan, mereka harus naik turun mendaki bukit2(kalo orang balikpapan sih menyebutnya dengan sebutan "gunung"). Bisa dibayangkan perjuangan mereka.

Sekalinya mereka menemukan pelanggan, hanya senyum yang mereka beri pada kami pertama kali. Walau berpeluh, tak sekalipun peluh menetesi dagangan mereka. Dan inilah hasil karya mereka.









Keduanya dapat diperoleh dengan mengeluarkan kocek sebesar 11rb rupiah.
Bahan Gado2 : Kacang goreng, garam, bawang putih goreng, petis, gula merah, kangkung rebus, taoge rebus, tempe tahu, lontong dan krupuk. Terkadang pakai telur ayam rebus.
Bahan cendol : cendol, mutiara, bubur sumsum, (jenang)jendol, santan dan gula merah..

PAsangan makanan ini dapat menggoda selera dan sekaligus melepas rasa lapar karena porsinya yang cukup banyak. Nyammm...

Untuk perbandingan, walaupun disebut gado2, masakan ini berbeda dengan gado2 siram yang berisikan kentang, tempe tahu, lontong, selada dan saus kacang yang dimasak terlebih dahulu. Enaknya gado2 ini adalah kesegaran dari saus kacangnya yang dibuat pada saat itu juga.

Nyam nyam....

16 Desember 2008

Makrab KPMB 2008

Asw.

Selamat malam dunia. Eka baru saja pulang dari acara Malam Keakraban Mahasiswa Balikpapan 2008 yang diadakan Camping LAwu REsort, Tawangmangu pada 13-14 Desember 2008. Acara 1 malam 2 hari itu diadakan oleh Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Balikpapan. Dengan tema "Fun for Survive", acara ini bertujuan untuk mengakrabkan para mahasiswa Balikpapan melalui serangkaian permainan yang menyenangkan di alam bebas.

Hari pertama dilalui dengan penuh penantian bus dari jam12 sampai jam2. Menurut saya, ini adalah strategi panitia untuk mengantisipasi peserta yang datang molor sehingga acara tidak tambah molor. Sambil menunggu bus, kami sedikit berkenalan sambil menonton siaran Toyota Cup. Ketika bus datang, tidak langsung serta merta pemberangkatan dimulai. HArus ada sedikit waktu yang tersita untuk memberikan kesempatan peserta untuk mempersiapkan perlengkapannya menuju bus. Ada 30 menit kami menunggu bus sampai penuh dengan keadaan yang panas (semi sauna). Tapi akhirnya kami bisa berangkat tanpa harus "terapi sauna" yang lebih lama.

Perjalanan sekitar 3 jam diwarnai dengan cuaca cerah diselingi hujan yang terkadang deras. Dan dengan racauan siaran radio asal solo/Klaten yang memuakkan.

Kami sampai di kawasan perkemahan ketika matahari meninggalkan berkas suryanya yang terlihat memerah semu layaknya pipi seorang gadis yang malu2 meninggalkan para pejuang nan gagah..

Tanpa ba-bi-bu lagi, kami segera menempati tenda yang telah disiapkan panitia. Namun, begitu melangkahkan kaki menuju musholla mini nan gelap, kami mendapati pemandangan kerlap kerlip Solo kala malam. Indah. Namun kehidupan didalamnya tidak selalu seindah pancar kerlip lampu malam hari dari pegunungan.

Kira2 jam8 malam, setelah makan malam, pembagian kelompok dan pertunjukan yelyel dengan muka tebal, kami akhirnya menikmati makan malam berupa ayam bakar. Impor dari Jogja, tapi karena banyak acara sebelum makan malam, salah satu hidangan tak dapat dinikmati. Sembari menikmati makan malam, kami disuguhi perkenalan panitia dan KPMB. Ide ini mungkin tercetus dari cara lobi para pejabat yang biasanya dilakukan sambil makan malam.. :-).

Setelah menyelesaiakan makan malam, kami mengira sudah tiba waktunya tidur karena hawa dingin, perut kenyang dan pegal perjalanan merupakan kombinasi sempurna untuk tidur. Namun kesempurnaan itu ditunda oleh Ekspresi didepan api unggun. Masing2 kelompok memberikan persembahan bagi teman2nya. Yang paling gampang dan cepat ya menyanyi diiringi petikan gitar. Setiap kelompok memecah hening dengan tepuk tangan dan hebohnya persembahan masing2. Akhirnya, jam11 kita (mencoba) tidur.

Sekedar mencoba tidur pun agak sulit. Ada yang bisa tidur dalam "Perfect silence", kesunyian yang sempurna. Keheningan yang diiringi orkestra jangkrik2. Ada yang membuat orkestra ngorok. Ada yang mengobrol2, merokok dan bermain gitar dulu. Kalau yang wanita, apakah mereka menyempatkan untuk berhias menjelang tidur dibumbui dengan obrolan khas wanita? Ada yang persiapan tidurnya macam mau berangkat perang. Tameng hawa dingin menghiasi dari kepala sampai ujung kaki seperti : kupluk, syal 5 lilit, jaket tebal, kaos tangan, kaus kaki 3 lapis, sarung dengan dalaman celana panjang. Tapi, satu hal yang pasti, saya bisa pastikan hampir semua manusia didalam kemah tidur meringkuk..

Subuh dijalankan dengan tubuh menggigil. Belum tebal kabut yang menggelayuti tebing. Mentari pun pelan2 membangunkan penghuni bumi yang peduli padanya. Memberikannya senyum ala pagi hari. Bahagia sekali.

Kebahagiaan ini dilanjutkan dengan hiking menyusuri sawah dan tebing menuju Air Terjun Grojokan Sewu(maaf jika salah redaksi). Perjalanan yang memakan waktu kira2 40 menit ini diwarnai dengan sapa hangat petani setempat. Dan licinnya medan yang menurun. Sesampainya disana, yang ditakutkan akan diwajibkannya membawa baju ganti pun terbukti. Kami bermain permainan yang menyebabkan kami harus basah kuyup. Ada yang sampai gemetaran seluruh tubuh. Selama permainan, kami sempat mencoba menyapa para monyet yang berburu makanan( dalam kasus ini satenya pak penjual sate ayam). Kegiatan sapa-menyapa saudara sangat-jauh-sekali lain bapak-ibu ini harus berhenti karena lemparan sapu pak penjual sate ayam yang lebih mirip atlet lempar lembing. Tak ada jatuh korban jiwa dari peristiwa ini.

Permainan ini rupanya menyita waktu dan stamina karena medan yang ditempuh menanjak. Kaki gemetar, perut keroncongan, badan menggigil dan rangkaian ranjau tak bertuan yang di-deploy(sebar) si kuda tak membuat kami gentar untuk mengejar sarapan yang dijanjikan panitia.

Waktu menunjukkan pukul 10 ketika kami selesai mandi. Menyongsong sarapan yang berupa nasi goreng dan teh hangat. Dan kebanyakan pria menuntaskan dendamnya pada sesi ini. Dilaporkan tak ada piring yang mampu menahan porsi kuli para pria. Bahkan dua orang dengan terang2an menambah porsi sarapan mereka. Salah satunya ya saya sendiri..

Dan inilah waktu outbound. Karena hiking telah menyita stamina dan konsentrasi peserta, panitia menyiapkan outbond berupa pos-pos yang disebar sekitar kawasan kemah kami. Untuk meramaikan suasana, para panitia yang tidak bertugas dengan suka rela menyumbangkan suara. Beberapa bisa dikatakan sumbang.

Puncak outbound adalah lomba estafet bakiak. Namun, acara ini akhirnya dibatalkan dikarenakan bakiaknya rusak oleh tenaga kuli peserta. Efek sarapan ala kuli, mungkin.

Sekitar pukul 12 kami makan lagi. He. Kali ini sup ayam. Enak dan hangat. Sobat kental untuk melawan cuaca dingin Lawu. Kombinasi sempurna untuk tidur sekali lagi menggoda kami untuk segera menuju tenda.

Akhirnya panitia memberikan kesempatan untuk evaluasi. Namun, acara evaluasi dan pengumuman pemenang pelbagai permainan harus bubar karena hujan deras tiba-tiba mendera perkemahan. Berlindung dalam kemah, kami menunggu hujan agak reda untuk kemudian menyerbu bus yang telah menanti untuk mengantarkan pulang.

Seakan Lawu belum merestui keinginan kami untuk angkat kaki darinya, kami akhirnya pulang diiringi hujan lebat. Seperti yang telah diprediksi sebelumnya, kebanyakan peserta mengisi perjalannnya dengan mencicil jatah tidur yang tertunggak. Untungnya kota jogja diberikan cuaca cerah. Acara kepulangan sepertinya berjalan lancar.

Semoga oleh2 berupa kartu nama teman2 bisa berguna di masa depan. Kalau kebetulan teman2 makrab membaca ini, jangan lupa untuk memberikan komentarnya. Yang merasa haknya untuk di tidak dipublikasikan dalam artikel ini saya langgar, mohon kirim pemberitahuan ke : ebonz_krenzy@yahoo.com. Terimakasih.